I.                   Tujuan Percobaan

1.1    Dapat mengisolasi parasetamol dari sediaan obat tradisional (jamu) dengan metode ektraksi fase padar

1.2   Melakukan analisis kualitatif dari hasil ekstraksi fase padat dengan metode Kromatografi Lapis Tipis

1.3   Melakukan analisis kualitatif dari hasil ekstraksi fase padat dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


II. Teori Dasar

         Ekstraksi fase padat (EFP) merupakan metode pemisahan senyawa dalam campuran sesuai dengan sifat fisik dan kimianya. EFP ini juga dapat digunakan untuk memekatkan dan memurnikan sampel untuk analisis. Prinsip dari EFP yaitu analit yang terlarut dalam suatu pelarut yang memiliki daya elusi rendah dimasukkan ke dalam catridge dan kemudian akan terperangkap pada medium EFP. Analit tersebut kemudian dapat dibilas dengan pelarut lain yang berdaya elusi rendah dan kemudian akhirnya dielusi dengan pelarut berdaya elusi kuat namun bervolume kecil (Watson, 2010). 

SPE dapat dibagi menjadi 4 berdasarkan jenis fase diam atau penjerap yang dikemas dalam cartridge, yakni fase normal (normal phase), fase terbalik (reversed phase), adsorpsi (adsorbtion) dan pertukaran ion (ion exchange). Pemilihan penjerap didasarkan pada kemampuan yang berikatan dengan analit, dimana ikatab antara analit dengan penjerap harus lebih kuat dibandingkan ikatan antara analit dengan matriks sampe. Sehingga analit akan tertahan pada penjerap. Selanjutnya dipilih pelarut yang mampu melepaskan ikatan antara analit dengan penjerap elusi (Gandjar, 2008).

    Pada proses percobaan EFP ini sebenarnya ada 4 tahapan yang terjadi, yaitu:

1. Pengkondisian

Pada tahap ini yang dilakukan yaitu mengaliri kolom/catridge dengan pelarut sampel, yang bertujuan untuk membasahi permukaan penjerap dan untuk menciptakan nilai pH yang sama (suasana yang sama), sehingga terhindar dari perubahan-perubahan kimia yang tidak diharapkan ketika sampel dimasukkan.

2. Retensi/Ekstraksi

Pada tahap ini yang dilakukan yaitu melewatkan larutan sampel ke dalam catridge, yang bertujuan untuk menahan analit pada penjerap dan komponen lain dalam sampel (matriks) akan keluar dari catridge.

3. Pembilasan

Yang dilakukan pada tahap pembilasan ini yaitu menambahkan larutan yang mampu menghilangkan sisa matriks yang tertinggal dalam penjerap, namun tidak mempengaruhi interaksi antara analit dengan penjerap. Tujuan dari penambahan larutan ini yaitu agar sisa matriks yang tertinggal keluar dari penjerap sehingga hanya terdapat analit dalam penjerap tersebut.

4. Elusi

Elusi ini merupakan tahap terakhir, yang dilakukan disini yaitu menambahkan atau mengalirkan larutan yang mampu melarutkan analit, yang bertujuan untuk mengeluarkan analait dari dalam penjerap. 

(Gandjar, 2012).

Analisa kualitatif adalah suatu proses pekerjaan dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia yang ada di dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya yang ada dalam suatu larutan (Keenan, 1992). Tujuan utama analisis adalah untuk menemukan dan mengidentifikasi komponen dalam zat kimia. Analisis kualitatif menghasilkan data kualitatif, seperti terbentuknya endapan, warna, gas maupun data non numerik lainnya. Umumnya dari analisis kualitatif hanya dapat diperoleh indikasi kasar dan komponen penyusun suatu analit. Analisis kualitatif biasanya digunakan sebagai langkah untuk analisis kuantitatif. Pada berbagai cara analisis modern, seperti cara-cara analisis spektroskopi dapat dilakukan dengan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif secara bersamaan, sehingga waktu dan biaya analisis yang dilakukan dapat ditekan seminimal mungkin dan perolehan hasilnya lebih akurat (Chadijah, 2012).

          Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya. Kromatografi lapis tipis dapat di gunakan untuk pemisahan senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik seperti lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dijelaskan dengan kromatografi kertas (Kurniawan dan Santosa, 2004).  Data yang diperoleh dari analisis dengan KLT adalah nilai Rf, nilai Rf berguna untuk identifikasi suatu senyawa. Nilai Rf suatusenyawa dalam sampel dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa murni. Nilai Rf didefinisikan sebagi perbandingan  jarak yang ditempuh oleh senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut sebagai fase gerak (Adam Wiryawan : 2008).

          Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) adalah suatu teknik kromatografi dengan fase gerak cairan dan fase diam cairan atau padatan (Putra, 2004). Prinsip dasar HPLC adalah fase gerak dialirkan dengan pompa melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam fase gerak dengan penyuntikkan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen cairan karena perbedaan kekuatan interaksi antara salut-salut terhadap fase diam akan keluar dari kolom terlebih dahulu dan sebaliknya. Setiap komponen cairan yang keluar dari kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram (Lestari, 2014). Pada Kromatografi Cair Kinerja Tinggi melihat puncak kromatogram KCKT. Uji kualitatif pada KCKT dapat dilakukan dengan membandingkan waktu retensi kromatogram sampel dengan kromatogram senyawa standar (Handayani,et al., 2005).

 

          Parasetamol merupakan obat analgetik yang bekerja menghambat sintesis prostaglandin, terutama di sistem saraf pusat. Parasetamol juga aman dan efektif digunakan untuk nyeri oto, pegal, dan demam akibat infeksi virus. Jika digunakan secara berlebihan, parasetamol dapat menimbulkan hepatotoksisitas dan jika digunakan dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbuklkan gangguan pada lambung (Kee, 1996).

         Pengertian jamu dalam Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan serian (generik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Kemenkes RI, 2010).


III.                   Data Fisik dan Kimia

1.      Parasetamol

Pemerian                     : serbuk halur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit (Dirjen POM, 2020: 1359)

Kelarutan                    : Larut dalam air mendidih dan dala natirum hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol (Dirjen POM, 2020: 1359)

BM                              : 151,16 (Dirjen POM, 2020: 1359)

Titik Didih                  : 180 0C (British pharmacopoeia, 2013)

Titik Leleh                  : 168-172 0C (British pharmacopoeia, 2013)

Ph                                : 5,5 – 6,5 0C  (British pharmacopoeia, 2013)

Stabilitas                     : Raktivitas stabil dalam kondisi normal, pemebntukan gas beracun dimungkinakan selama pemanasan atau kasus kebakaran, kompatibel terhadap pengoksidasi kuat (British pharmacopoeia, 2013)

Identifikasi bahaya      : Berbahaya jika ditelan, menyebabkan iritasi kulit, menyebabkan iritasi mata  (British pharmacopoeia, 2013)

Penanganan                 : Jika terhirup tempatkan pasiendalam posisi pemulihan untuk dipindahkan. Jika terkena kulit  segera cuci dengan air dan saabun lalu bilas dengan air. Jika terkena  mata bilas mata selama beberapa menit dengan air yang mengalir dan jika tertelan  bilas  mulut dan dimuntahkan   (British pharmacopoeia, 2013)

2.      Aquadest

Pemerian                     : Cair, tidak bewarna, ta berbau

Ph                                : Netral

Titik Didih                  : 100 0C

Titik Leleh                  : 0 0C

Stabilitas                     : Stabil secara kimiawin dibawah konsisi ruangan standar (suhu kamar)

Identifikasi bahaya      : Informasi tidak tersedia

                                                                                      (SMARTLAB Indonesia, 2017)

3.      Metanol

Pemerian                     : Cair, tidak bewarnna, ciri khas

Titik Didih                  : 64,5 0C

Titik Leleh                  : -98 0C

Stabilitas                     : Stabil secara kimiawin dibawah kondisi ruangan standar (suhu kamar)

Penanganan                 : Jika terhirup bawa untuk menghirup udara bersih dan segera hubungi dokter. Jika terkenan kulit maka bilaslah dengan air mengalir. Jika terkena mata mak bilaslah dengan air banyak. Jika tertelan makan bawa ke udara segar dan meminum etanol (missal 1 gelas yang mengandung 40% alcohol)

(SMARTLAB Indonesia, 2017).

4.      Kloroform

Pemerian                     : Cairan jernih, tidak berwarna, berbau khas dan mudah menguap (Dirjen POM, 2014)

Kelarutan                    : Sulit larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol (Dirjen POM, 2014)

Penanganan                 : Jika terhirup bawa ke udara segar, jika tertelan jangan merangsang muntah, jika terkena kulit cuci dengan banyak air selama 15 menit, dan jika terkena mata basuh dengan air selama 15 menit (Science Lab, 2005).

5.      Ammonium Hidroksida

Pemerian                     : Cairan tidak berwarna, berbau kuat seperti ammonia

Kelarutan                    : larut dalam air pada suhu 200C. pH : 10,5 pada 200C

Penanganan                 : Jika terhirup bawa ke udara segar, jika tertelan jangan merangsang muntah, jika terkena kulit cuci dengan banyak air selama 15 menit, dan jika terkena mata basuh dengan air selama 15 menit

                                                                        (Science Lab, 2005)

6.      Asam Formiat

Pemerian : Cairan tidak berwarna, berbau tajam

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan etanol TD : 101°C

Penanganan : Jika terhirup bawa ke udara segar, jika tertelan jangan merangsang muntah, jika terkena kulit cuci dengan banyak air selama 15 menit, dan jika terkena mata basuh dengan air selama 15 menit (Science Lab, 2005).

 

IV.                Alat dan Bahan

                 Alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah timbangan analitik, spatel, kertas perkamen, gelas kimia, labu ukur, filler, piper volum, shaker, corong, kertas saring, gelas ukur, mikropipet, pipa kapiler, vial, bejana KLT, penampak bercak sinar uv, pinset, seperangkat alat KCKT dengan detector uv 254 nm, dan membran filter PTFE 0,45 um.

                Bahan yang digunkan pada percobaan ini adalah sampel jamu simulasi, paracetamol, asam format, methanol p.a, methanol pro KCKT, aquades, cartridge c-18,curcumae domesticate rhizome, curcumae xanthorrizhae rhizome, zingiberis officinalis rhizome, ammonium hidroksida, plat KLT GF254, dan kloroform p.a.

 

V.             Prosedur Percobaan

5.1   Ekstraksi Fase Padat

        Mula-mula 1 gram jamu simulasi ditimbang terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam vial. Lalu ditambahkan asam format sebanyak 8 ml. Kemudian dikocok dengan menggunakan shaker selama 15 menit. Setelah itu campuran disaring dengan kertas saring yang sebelumnya dibasahi terlebih dahulu dengan asam format. Kemudian filtrat ditampung sebanyak 2 ml dan dimasukkan ke dalam vial yang sudah diberi label filtrat. Setelah itu dilakukan pengkondisian kolom SPE C18. Kemudian sebanyak 1,5ml methanol dimasukkan ke dalam kolom SPE dan ditunggu sampai methanol habis menetes. Sebanyak 1,5 ml aquades ditambahkan ke dalam kolom SPE dan ditunggu sampai aquades habis menetes.

           Tahap selanjutnya yaitu retensi sampel. Kolom SPE dipindahkan ke dalam kolom retensi dan sebanyak 800 μL jamu simulasi dimasukkan ke dalam kolom SPE dengan menggunakan mikropipet. Setelah itu kolom dipindahkan ke dalam vial pembilasan. Kolom dicuci dengan aquades sebanyak 3ml. Setelah itu, kolom dipindahkan ke kolom elusi dan ditambahkan NH4OH dalam methanol sebanyak 3 mL dan biarkan sampai habis menetes.

5.2 Analisis Kualititaf dengan KLT

     Pertama-tama dibuat fase gerak kloroform methanol dengan perbandingan 9:1 sebanyak 10 mL. Kemudian dilakukan penjenuhan fase gerak. Lalu larutan standar paracetamol, filtrat, retensi, pembilasan, elusi ditotolkan pada plat KLT GF254 dengan pipa kapiler. Setelah penjenuhan selesai dimasukkan plat ke dalam bejana dan dielusi sampai eluen mencapai tanda batas. Kemudian plat KLT dilihat di bawah penampak bercak sinar UV 254 nm.

5.3 Analisis Kuantitatif dengan KCKT

      Mula-mula dilakukan pembuatan larutan standar paracetamol. Pipet 1 mL larutan stok ke dalam labu takar 10 mL. Kemudian diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membrane PTFE dengan ukuran 0,45 mikrometer. Sebelum larutan standar diinjeksi, syringe terlebih dahulu dibilas dengan larutan standar yang akan digunakan. Kemudian sebanyak 40 μL diambil dan diinjeksi ke dalam KCKT dan ditentukan waktu retensi. Kemudian dilakukan hal yang sama pada larutan uji yang sudah disaring dengan membrane PTFE dengan ukuran 0,45 mikrometer. Kemudian diamati waktu retensi larutan uji.



VI.                   Pembahasan

                  Pada percobaan ini dilakukan isolasi terhadap parasetamol dari sediaan obat tradisional (jamu) dengan metode ektraksi fase padat, selanjutkan dilakukan analisis kualitatif dari hasil ektraksi fase padat dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

                   Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan masyarakat dikarenakan harga yang sangat terjangkau, mudah didapatkan dan relatif lebih aman, dibandingkan obat sintesis (Banureah, 2009). Menurut (Permenkes, 2012) Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Namun, terdapat permasalahan yang sering terjadi dalam obat tradisional yaitu terdapat penambahan BKO (Bahan Kimia Obat). Menurut (BPOM, 2013) Bahan kimia obat (BKO) merupakan zat-zat kimia yang digunakan sebagai bahan utama obat kimiawi yang biasanya ditambahkan dalam sediaan obat tradisional/jamu untuk memperkuat indikasi dari obat tradisional tersebut. Obat tradisional yang biasa mengandung BKO adalah yang memiliki indikasi untuk rematik, penghilang rasa sakit, dan afrodisiak.

             Menurut aturan Permenkes RI No 246/MENKES/PER/ V/1990 dalam izin usaha industri obat tradisional dan pendaftaran obat tradisional menyebutkan bahwa sediaan obat tradisional tidak diperkenankan mengandung bahan kimia obat karena penambahan bahan kimia obat secara sembarangan dan secara liar berbahaya bagi kesehatan akan mengalami risiko gangguan kesehatan serius, terutama pada lambung, jantung, ginjal, dan hati bahkan dapat berujung pada kematian. Efek samping adanya parasetamol didalam jamu atau obat tradisional yaitu jarang terjadi kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut dan kerusakan hati setelah overdosis (BPOM RI, 2016).

             Pada percobaan ini pertama dilakukan isolasi parasetamol dari sampel obat tradisional jamu yang sengaja ditambahakan dengan menggunakan ekstraksi fase padat. Ekstraksi fase padat (EFP) merupakan metode pemisahan senyawa dalam campuran sesuai dengan sifat fisik dan kimianya. EFP ini juga dapat digunakan untuk memekatkan dan memurnikan sampel untuk analisis (Watson, 2010). Mula-mula 1 gram jamu simulasi ditimbang yang sebelumnya sudah ditambahkan parasetamol. Lalu ditambahkan asam format sebanyak 8 mL. Dikocok dengan shaker agar homogen dan diambil filtratnya. Setelah mempersiapakan sampel selesai selanjutnya dilakukan tahapan metode SPE.

             Tahap pertama dilakukan pengondisian kolom yang bertujuan untuk  mengkondisikan catridge SPE Lichrolut C-18 yang bersifat nonpolar agar membuka pori-pori fase diam sama dengan sampel dan terhindar dari perubahan atau reaksi kimia yang tidak diinginkan. Pelarut yang digunakan untuk mengkondisikan kolom memiliki daya elusi kuat seperti  metanol dan aquadestilata karena bersifat polar, sehingga catridge terebut dinilai cocok jika digunakan metanol sebagai pelarut dalam tahap pengkondisian (Hilda, A., dkk, 2015).

  Tahap kedua yaitu retensi sampel. Kolom SPE dipindahkan ke dalam kolom retensi dan sebanyak 800 μL jamu simulasi dimasukkan ke dalam kolom SPE μL karena merupakan jumlah volume optimum (Hilda, A., dkk, 2015) dengan menggunakan mikropipet. Pada tahap retensi atau penjerapan untuk menahan analit yang berupa parasetamol agar terjerap di fase diam berupa  catridge SPE Lichrolut C-18, sehingga yang terelusi hanya berupa matriksnya saja.

 Tahap ketiga proses pembilasan dimana kolom dipindahkan ke dalam vial pembilasan. Kolom dicuci dengan aquades sebanyak 3 mL. Tujuan proses pembilasan bertujuan untuk mengeluarkan sisa-sisa matriks yang masih tertinggal. Aquades digunakan sebagai pelarut di tahap pembilasan karena aquades tidak bisa melarutkan parasetamol dengan baik, sehingga kemungkinan parasetamol akan terjerap lebih lama dalam fase diam. Kelarutan parasetamol dalam air yaitu larut dalam air mendidih (Dirjen POM, 2014).

Tahap keempat yaitu proses elusi kolom dipindahkan ke kolom elusi dan ditambahkan NH4OH dalam methanol sebanyak 3 mL dan biarkan sampai habis menetes. NH4OH merupakan pelarut yang dapat melarutkan parasetamol sehingga dapat terelusi. Sifat NH4OH yaitu basa dan parasetamol asam maka ketika bereaksi akan membentuk garam, sehingga analit akan lebih mudah terelusi keluar dari penjerap. Larutan hasil elusi ini diharapakan hanya analit parasetamol saja yang terelusi tanpa adanya matriks-matriks didalamnya. Sehingga untuk memastikan kembali apakah hanya ada analit parasetamol saja atau tidak dilakukan tahapan selanjutnya yiatu analisis kualitatif dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

Analisis kualitatif bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya parasetamol dari obat tradisional jamu. Dengan metode KLT. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT banyak digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak keuntungannya yaitu murah dan sederhana. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa- senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas (Gandjar, 2008). Prinsip KLT adalah adsorbsi dan partisi dimana adsorbsi adalah penyerapan pada permukaan sedangkan partisi adalah penyebaran atau kemampuan suatu zat yang ada dalam larutan untuk berpisah kedalam pelarut yang digunakan (Sudarmadji, 2007).

          Pertama-tama dibuat fase gerak kloroform methanol dengan perbandingan 9:1 sebanyak 10 mL, fase gerak yang digunakan bersifat semipolar hal ini akan menjerap parasetamol yang bersifat semipolar, karena prinsip dari kromatografi lapis tipis yaitu berdasarkan kepolaran dimana terdapat like dissolved like dimana akan menjerap analit yang sifatnya sama.  Kemudian dilakukan penjenuhan fase gerak bertujuan agar suasana bejana sama dengan fase gerak sehingga plat klt mudah terelusi oleh fase gerak. Lalu larutan standar paracetamol, hasil filtrat dari jamu, hasil retensi, hasil pembilasan dan hasil elusi ditotolkan pada plat KLT GF254 sebagai fase diam dengan pipa kapiler. Penggunakan plat KLT GF254  karena plat KLT tersebut memiliki gipsum sebagai pengikat fase diam  dan dapat berfluoresensi pada panjang gelombang 254 nm.  Setelah penjenuhan selesai dimasukkan plat ke dalam bejana dan dielusi sampai eluen mencapai tanda batas. Kemudian plat KLT dilihat di bawah penampak bercak sinar UV 254 nm.

       Dari hasil pengamatan analisis kualtitatif dengan KLT terdapat tiga bercak yaitu bercak dari larutan standar pacarsetamol dengan jarak tempuh 3,1 cm, bercak filtrat dengan jarak tempuh 3 cm dan bercak hasil elusi dengan jarak tempuh 3,2. Dari bercak tersebut di hitung nilai rf nya untuk memastikan apakah yang diisolasi adalah parasetamol dengan cara membandingkan nilai rf standar parasetamol dengan nilai rf elusi jika mendekati berarti terdapat kandungan parasetamol dan hasil yang didapatkan nilai rf elusi sebesar 0,582 mendekati nilai rf standar parasetamol sebesar 0,564 yang artinya parasetamol berhasil dipisahkan dari jamu dengan metode EFP.

     Analisis kualitatif selanjutnya dengan  metode KCKT. Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) adalah suatu teknik kromatografi dengan fase gerak cairan dan fase diam cairan atau padatan (Putra, 2004). Prinsip dasar HPLC adalah fase gerak dialirkan dengan pompa bertekanan tinggi melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam fase gerak dengan penyuntikkan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen cairan karena perbedaan kekuatan interaksi antara salut-salut terhadap fase diam akan keluar dari kolom terlebih dahulu dan sebaliknya. Setiap komponen cairan yang keluar dari kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram (Lestari, 2014).

 

          Dalam instrument KCKT terdapat fasa diam yang digunakan yaitu Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.  Selain itu, kolom C18 memiliki jumlah C yang banyak sehingga mengakibat sifat fase diam ini cenderung bersifat non polar, akibatnya pemisahan terhadap parasetamol akan semakin baik (Gandjar, 2007).

            Sedangkan fase gerak yang digunakan adalah campuran air dengan metanol perbandingan 1: 3. Karena menggunakan kromatografi partisi, dimana pemisahan terjadi berdasarkan partisi analit dalam dua cairan yang tidak saling bercampur. Pemisahan akan terjadi karena adanya perbedaan kelarutan komponen sample dalam kedua fase cair tersebut. fase gerak yang digunakan bersifat polar. metanol-air yang memiliki drajat pro-analisis. Sehingga, dalam penggunaannya pada metode HPLC harus disaring terlebih dahulu dengan pompa vakum yang berisi membran filter untuk menyaring pengotor-pengotor bahkan yang berukuran mikro dari fase gerak. Adanya pengotor dalam reagen dapat menyebabkan gangguan pada sistem kromatografi. Adanya partikel yang kecil dapat terkumpul dalam kolom atau dalam tabung yang sempit, sehingga dapat menyebabkan suatu kekosongan pada kolom atau tabung tersebut Pemilihan metanol-air sebagai fase gerak karena metanol-air merupakan pelarut universal yang dapat mengelusi senyawa-senyawa yang bersifat polar,  hal ini disebabkan karena struktur dari metanol memiliki susunan unik dimana gugus OH dan metil berdeketan menjadikkan metanol bersifat semipolar, sehingga bila dipakai sebagai fase gerak, metanol mampu mengelusi senyawa baik yang polar maupun nonpolar (Gandjar, 2007).

       Analisis kualitatif dengan metode KCKT ini yang diamati adalah waktu retensi puncak  larutan uji memiliki nilai yang sama dengan waktu retensi puncak larutan standar. Waktu retensi merupakan jarak antara pncak maksimal dari awal larutan diinjeksikan dan dinyatakan dalam waktu.    Mula-mula dilakukan pembuatan larutan standar paracetamol. Pipet 1 mL larutan stok ke dalam labu takar 10 mL. Kemudian diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Kemudian larutan disaring dengan membrane PTFE dengan ukuran 0,45 mikrometer, hal tersebut bertujuan untuk menyaring partikel-partikel kecil yang merupakan pengotor dari larutan tersebut agar tidak terjadi penyumbatan dalam kolom yang akan menghambat instrumen KCKT bekerja. Sebelum larutan standar diinjeksi, syringe terlebih dahulu dibilas dengan larutan standar yang akan digunakan Dan ketika pengambilan larutan yang akan diinjeksikan harus dipastikan tidak ada gelembung pada syringe, karena dapat menganggu proses analisis dan pengamatan. Pada larutan uji digunakan larutan hasil cucian dan larutan hasil elusi EFP. Kemudian masing-masing larutan standar dan larutan uji diinjeksikan ke dalam alat KCKT untuk dianalisis waktu retensi puncak nya.

Dari hasil pengamatan yang diperoleh waktu retensi puncak antara larutan uji sebesar 3,497 mendekati larutan standar yaitu sebesar 3,527. Oleh karena itu isolasi parasetamol dengan metode SPE dapat dilakukan dengan ditandai waaktu retensi uji dan standai yang mendekati. Namun pada kromatogram larutan standar terdapat dua puncak seharusnya kromatogramyang ideal memiliki 1 puncak saja hal disebabakan adanya pengotor dan kromatogram larutan uji terdapat banyak puncak yang bukan hanya puncak parasetamol saja yang menandakan bahwa hasil EFP tidak murni berisi parasetamol saja melainkan juga masih terdapat banyak matriks yang terbawa sehingga isolasi parasetamol tidak berhasil dilakukan

       VII.           Kesimpulan

                  Kesimpulan percobaan yang telah dilakukan, bahwa metode ektraksi fase padat dapat mengisolasi parasetamol yang dengan sengaja ditambahkan  dengan sediaan obat tradisional jamu dan dibuktikan dengan hasil analisis kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yaitu larutan standar parasetamol memiliki nilai rf dan waktu retensi yang mendekati hasil analisis larutan uji

 

VII.                Daftar Pustaka

Badan Pengawan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2016. Tentang Obat    

                Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat. Jakarta: BPOM RI.

British Pharmacopoiea Commision. (2013). British Pharmacopoiea. London: The

          Pharmaceutical Press.

Chadijah, Sitti. 2012. Dasar-Dasar Kimia Analitik. Makassar: Alauddin University Press.

Effendy. (2004). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dalam Bidang Farmasi Jurnal,          

           hlm. 5-8

Dirjen POM. (2020). Farmakope Indoensia Edisi VI. Jakarta: DEPKES RI

Dirjen POM. (1995). Farmakope Indoensia Edisi IV. Jakarta: DEPKES RI

Gandjar Gholib dan Abdul Rohman. 2007.  Kimia Farmasi Analisis.  

                Yogyakarta : Pustaka Pelajar 

 Kee, J. L dan Evelyn, R. H. (1996). Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.

Lestari, W. (2014).  Validasi Metode Penetapan Kadar Aliskiren Dalam Plasma Darah Secara In Vitri menggunakan KCKT. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah

Science Lab. (2005). Material Safety Data Sheet Asam Formiat. Houston: Science lab

Science Lab. (2005). Material Safety Data Sheet Ammonium Hydroxide. Houston: Science Lab.

Science Lab. (2005). Material Safety Data Sheet  Kloroform. Houston: Science Lab.

Smartlab Indonesia. (2017). Lembar Data Keselamatan Bahan. Tangerang: PT.

                 SMARTLAB INDONESIA

Watson, D. G. (2010). Analisis Farmasi. Jakarta: EGC.

 

 

 

 

 

 

 


Comments